Bab 1
Apa itu batik?
Batik adalah cara menghias kain dengan menahan warna pada bagian tertentu. Perajin menggambar pola memakai malam, yaitu lilin cair, lalu mencelup kain ke dalam pewarna. Bagian yang tertutup malam menolak warna, sehingga ketika malam dilepas, pola muncul sebagai garis dan bidang yang jernih di atas latar berwarna.
Kata batik sering dikaitkan dengan bahasa Jawa, yakni gabungan makna menulis dan titik. Gambaran itu pas: membatik memang seperti menulis dengan titik-titik dan garis lilin yang dibubuhkan sabar demi sabar.
Keterangan: batik dan kain bermotif batik. Kain yang polanya dicetak langsung dengan mesin tanpa proses perintang malam lebih tepat disebut tekstil bermotif batik. Keduanya sama-sama indah, tetapi proses, nilai, dan harganya berbeda.
Bab 2
Sejarah singkat
Teknik menahan warna pada kain dikenal di banyak peradaban dunia. Di Nusantara, khususnya Jawa, teknik ini tumbuh menjadi tradisi yang kaya. Di lingkungan keraton, membatik berkembang sebagai seni halus dengan aturan motif yang ketat, sementara di rumah-rumah perajin ia menjadi sumber penghidupan.
Seiring perdagangan, batik menyebar ke kota pesisir seperti Pekalongan, Cirebon, dan Lasem. Di sana, pengaruh Tionghoa, Arab, India, dan Eropa bercampur dengan selera lokal, melahirkan warna-warna cerah dan motif yang lebih bebas dibanding batik pedalaman.
Pada abad ke-19, hadir batik cap yang memakai stempel tembaga. Inovasi ini mempercepat produksi dan membuat batik terjangkau bagi lebih banyak orang, tanpa menghapus tradisi batik tulis yang tetap hidup.
Lingkungan keraton
Batik halus dengan aturan motif tertentu.
Kota pesisir
Pertukaran budaya melahirkan warna dan motif baru.
Abad ke-19
Batik cap mempercepat produksi.
2 Oktober 2009
UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Bab 3
Cara batik dibuat
Membatik tulis butuh banyak tahap, dan tiap tahap menuntut ketelitian. Berikut urutan yang paling umum.
- Mencuci kain. Kain mori dicuci agar bersih dari kanji dan siap menyerap malam serta warna.
- Nyorek. Pola digambar tipis di kain dengan pensil sebagai panduan.
- Mencanting. Malam cair diambil dengan canting dan digoreskan mengikuti pola.
- Nembok. Bidang yang luas ditutup malam agar tetap terjaga warnanya.
- Mencelup. Kain dicelup ke pewarna, lalu dikeringkan. Proses ini bisa diulang untuk tiap warna.
- Nglorod. Kain direndam air panas agar malam luruh dan pola terlihat jelas.
Untuk motif berwarna banyak, pencantingan dan pencelupan diulang beberapa kali. Itulah sebabnya selembar batik tulis halus bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Keterangan: canting. Canting adalah alat kecil dengan wadah dan ujung berlubang halus, biasanya dari tembaga, tempat malam cair ditampung lalu dialirkan membentuk garis. Besar kecil lubangnya menentukan tebal tipis garis.
Bab 4
Tiga jenis batik
Batik tulis
Digambar tangan dengan canting. Tiap lembar unik, pengerjaannya paling lama, dan nilainya paling tinggi.
Batik cap
Malam dibubuhkan dengan stempel tembaga. Lebih cepat dan polanya seragam, sehingga harganya lebih terjangkau.
Batik kombinasi
Gabungan cap dan tulis: pola dasar dicap, detail halus ditulis tangan.
Keterangan: batik printing. Kain bermotif batik hasil cetak mesin sering dijual sebagai batik printing. Harganya murah dan praktis, tetapi tidak melewati proses perintang malam, jadi sebaiknya dibedakan dari batik tulis dan cap.
Bab 5
Motif dan maknanya
Banyak motif batik membawa pesan dan harapan. Beberapa contoh klasik di bawah ini hanyalah gambaran sederhana, karena tafsir makna bisa berbeda antardaerah dan antarperajin.
Parang
Keterangan gambar: ilustrasi sederhana garis diagonal motif parang, yang dimaknai sebagai keteguhan dan perjuangan yang tak putus. Dahulu sebagian jenis parang dikaitkan dengan lingkungan keraton.
Kawung
Keterangan gambar: ilustrasi lingkaran-lingkaran motif kawung, yang kerap dikaitkan dengan kesucian dan pengendalian diri.
Mega Mendung
Keterangan gambar: ilustrasi lapisan awan motif mega mendung khas Cirebon, lambang kesabaran dan ketenangan.
Truntum
Keterangan gambar: ilustrasi bunga-bunga kecil seperti bintang pada motif truntum, yang melambangkan cinta yang tumbuh kembali. Sering dikenakan orang tua pengantin.
Bab 6
Pengakuan dunia
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan itu menyoroti bukan hanya keindahan kainnya, tetapi juga pengetahuan, teknik, dan makna yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejak itu, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, dan banyak orang mengenakan batik ke kantor maupun sekolah untuk merayakannya.
Bab 7
Merawat batik
Batik yang dirawat dengan baik bisa awet puluhan tahun. Kuncinya lembut dan telaten.
- Cuci dengan tangan memakai deterjen lembut, atau lerak yang dikenal ramah bagi kain batik.
- Hindari pemutih dan jangan mengucek atau memeras terlalu keras.
- Jemur di tempat teduh, jangan langsung di bawah terik matahari agar warna tidak pudar.
- Setrika dengan suhu sedang dari sisi dalam kain.
- Simpan di tempat kering dan lipat dengan alas kertas agar lipatan tidak merusak serat.
Bab 8
Memilih batik yang baik
Mulailah dengan memperhatikan bagian belakang kain. Pada batik tulis dan cap, warna biasanya tembus hingga kedua sisi, sedangkan pada kain cetak sisi belakangnya cenderung pucat.
Perhatikan juga garis dan ketelitian pola, serta tanyakan asal-usul dan proses pembuatannya. Harga yang masuk akal mencerminkan waktu dan keterampilan di baliknya.
Dan bila memungkinkan, belilah langsung dari perajin atau koperasi setempat. Dengan begitu, tradisi ini tetap hidup dan penghasilannya sampai ke tangan yang membuatnya.
Keterangan: tentang harga. Tidak ada harga baku. Batik tulis halus bisa jauh lebih mahal daripada batik cap karena waktu pengerjaannya, jadi bandingkan dengan jenis, bahan, dan kerumitan motif.
Glosarium
- Malam
- Lilin cair, biasanya campuran lilin dan resin, untuk menahan warna.
- Canting
- Alat penampung dan pengalir malam saat menulis pola.
- Mori
- Kain katun dasar yang umum dipakai untuk membatik.
- Nglorod
- Tahap melepas malam dari kain dengan air panas.
- Soga
- Warna cokelat khas batik klasik Jawa.
- Nila
- Warna biru tua dari pewarna indigo, juga khas batik.